Skip to main content

Kepemimpinan Adaptif Dinilai Penting untuk Menjawab Tantangan Era Disrupsi

Aparatur Sipil Negara (ASN) perlu mengembangkan kepemimpinan yang adaptif agar mampu menghadapi perubahan sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, birokrasi dituntut tidak hanya menjalankan program pemerintah, tetapi juga menghasilkan kebijakan yang berdampak dan berkelanjutan.

Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran Aparatur Sipil Negara Lembaga Administrasi Negara (LAN), Erna Irawati, menilai tantangan di era disrupsi menuntut pemimpin yang mampu mengantisipasi perubahan serta menyiapkan organisasi menghadapi masa depan. Menurutnya, ukuran keberhasilan kebijakan publik kini tidak lagi semata-mata dilihat dari jumlah program yang dijalankan atau besarnya anggaran yang terserap, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Dalam sesi Insight bertema “ESG for Impact: Kepemimpinan Adaptif di Era Disrupsi”, Erna menegaskan bahwa masyarakat lebih merasakan hasil dari sebuah kebijakan dibandingkan proses birokrasi yang melatarbelakanginya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) dapat menjadi landasan bagi instansi pemerintah dalam menyusun dan menjalankan kebijakan. Melalui kerangka tersebut, aspek keberlanjutan lingkungan, manfaat sosial, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel dapat berjalan secara seimbang. Dengan demikian, birokrasi didorong untuk bertransformasi dari sekadar memenuhi aspek kepatuhan menuju penciptaan nilai dan dampak yang lebih luas.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PT Graha 165 ESQ Group, Dadan Ramdan, mengatakan konsep ESG kini telah berkembang menjadi strategi organisasi dalam menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat. Menurutnya, kondisi yang penuh ketidakpastian menuntut organisasi memiliki pemimpin yang tangkas beradaptasi, mampu mengambil keputusan secara tepat, serta terus mengembangkan kapasitas diri.

Dadan menilai pemimpin adaptif tidak bersikap reaktif terhadap perubahan, melainkan mampu mengidentifikasi peluang sejak dini dan mempersiapkan organisasi agar tetap relevan di tengah berbagai tantangan.

Ia juga menekankan bahwa penerapan ESG tidak cukup diwujudkan melalui penyusunan laporan keberlanjutan atau dokumen administratif. Keberhasilannya bergantung pada tata kelola organisasi yang baik, budaya kerja yang mendukung, serta komitmen seluruh elemen organisasi dalam mewujudkan manfaat nyata bagi masyarakat maupun lingkungan.

Menutup pemaparannya, Dadan mengajak seluruh peserta menjadikan keberlanjutan sebagai tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil saat ini akan memengaruhi kualitas kehidupan generasi mendatang, sehingga kepedulian terhadap lingkungan dan tata kelola yang baik perlu menjadi bagian dari setiap langkah pembangunan.

Sumber : rri.co.id

Leave a Reply

Share