Kepemimpinan Otentik

By Julai 4, 2017 #!28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700p5128#28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700p-10Asia/Jakarta2828Asia/Jakartax28 11am28am-28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700p10Asia/Jakarta2828Asia/Jakartax282019Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +07005710572amIsnin=672#!28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700pAsia/Jakarta2#Februari 11th, 2019#!28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700p5128#/28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700p-10Asia/Jakarta2828Asia/Jakartax28#!28Isn, 11 Feb 2019 10:57:51 +0700pAsia/Jakarta2# Achievement, Artikel
ESQ-165-ESQ-165-great-leader-KEPEMIMPINAN-OTENTIK
expert-in-character-building

Saya selalu masih terkenang saat anak perempuan terkecil saya saat usianya masih sekitar satu tahun. Namanya Sakura. Ia sangat menggemaskan dan ekspresif. Melihat ibunya datang saja, akan membuatnya tertawa lebar. Tak hanya itu, kakinya dan tangannya pun akan dihentak-hentakannya, menunjukkan perasaan senangnya.

Sesungguhnya tak hanya Sakura, hampir semua anak memang umumnya demikian. Mereka biasanya akan mengekspresikan perasaan mereka apa adanya baik sedih maupun gembira. Saat ia sedih marah maka itu akan ia ungkapkan dengan tangisan baik di dalam rumah maupun saat di mall, begitu pula saat gembira. Dia akan meluapkan perasaannya sebagaimana apa adanya.

Kecendurungan sifat demikian pada anak-anak karena mereka memiliki keaslian (authentic). Mereka tidak ‘jaim’ atau jaga image. Karena itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsha Sinetar menunjukkan bahwa SQ tertinggi justru dimiliki oleh anak-anak. Dalam bukunya “What We Can Learn from the Early Awakening Child”, disebutkan bahwa pada anak-anak justru ditemukan potensi-potensi pembawaan spiritual (spiritual traits) seperti kejujuran, keberanian, optimisme, keimanan, perilaku konstruktif, empati, sikap memaafkan, dan bahkan ketangkasan dalam menghadapi amarah dan bahaya. Semua itu menurut penelitian Sinetar menjadi sifat-sifat spiritual anak-anak sejak usia dini.

Dewasa ini berkembang wacana bahwa dunia semakin ke arah spiritual. Materialism dan kapitalisme terbukti tidak mampu memberikan kebahagiaan sebagaimana yang diinginkan manusia. Bahkan makin membuat manusia terasing dari jati dirinya. Jika selama ini kesuksesaan kepemimpinan diukur dengan sejauh mana ia mampu menguasai lingkungan eksternal diukur oleh seberapa besar ia membawa pendapatan, laba, terobosan produk baru, penghematan biaya, atau peningkatan pangsa pasar.

BACA JUGA  Membangun Branding Diri Lewat Public Speaking, Berani Coba?

Kini para ahli menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah hanya sebuah tindakan lahir yang kita lakukan. Ia sesungguhnya sesuatu yang muncul dari sisi terdalam diri kita sendiri. Kepemimpinan adalah sebuah proses, sebuah ekspresi yang akan memperlihatkan tentang siapa kita sesungguhnya melalui tindakan-tindakan yang kita lakukan dan keputusan-keputusan yang kita ambil. Kepemimpinan pada tahap yang lebih tinggi, sesungguhnya adalah keotentikan atau keaslian seseorang, dan ekspresi diri yang akan mewujudkan nilai-nilai.

Karena itu muncul istilah ‘Authentic Leadership”. Kepolosan yang semula dianggap kebodohan justru makin disukai. Upaya-upaya pencitraan, sebagaimana yang ramai dilakukan di masa lalu, kini malah sudah dianggap usang, dan tak disukai lagi.

LIMA HAL PENTING DALAM KEPEMIMPINAN OTENTIK

Para ahli di bidang leadership banyak merumuskan tentang konsep kepemimpinan otentik ini. Salah seorang di antaranya, Kevin Cashman, merumuskan Five Touchstones yaitu lima hal yang sangat penting untuk membangun kepemimpinan otentik.

1Tahu Diri Secara Otentik

“Kenalilah dirimu,” merupakan pepatah yang dikenal sangat luas di berbagai tempat. Kata-kata bijak ini berbicara tentang aturan moralitas dan telah ada sejak jaman dulu. Kata kuncinya: jika kita ingin menjadi lebih efektif dengan orang lain, pertama kita perlu menjadi lebih efektif dengan diri kita sendiri. Daripada memfokuskan pada mencari mitra yang tepat (dalam bisnis atau persahabatan) lebih baik kita berusaha untuk menjadi mitra yang tepat. Berkomitmen untuk otentik untuk mengenal diri total.

BACA JUGA  Motivator Anak, 5 Langkah Agar Anak Lebih Percaya diri

2Dengarkan Secara Otentik

Ini merupakan sebuah keterampilan tersendiri. Tidak semua orang dapat melakukannya. Mendengarkan otentik ini berpusat pada prinsip timbal balik psikologis: untuk mempengaruhi orang lain, pertama kita harus terbuka untuk pengaruh mereka. Mendengarkan otentik adalah tentang menjadi dermawan-mendengarkan dengan sikap memberikan yang berusaha untuk mendatangkan kontribusi pada seseorang. Mendengarkan otentik adalah tentang menjadi terbuka untuk tujuan dan belajar melalui orang lain.

Mendengarkan otentik menciptakan landasan untuk sinergi dan efektivitas tim. Terbuka untuk menghargai perspektif yang berbeda dan keputusan yang lebih efektif. Mendengarkan otentik adalah jiwa dari sinergi.

3Ekspresikan Secara Otentik

Ekspresi otentik adalah tantangan besar bagi banyak pemimpin. Jarang ada pemimpin yang memiliki integritas yang lengkap di semua bagian kehidupan mereka. Integritas bukan sekedar mengatakan yang sebenarnya. Integritas berarti kesesuaian total antara siapa kita dan apa yang kita lakukan. Ini adalah tujuan yang tangguh dan kebanyakan dari kita akan menghabiskan hidup kita di jalan menuju ke sana. Seberapa sering kita menahan sesuatu yang kita rasa penting karena takut mengekspresikannya? Seberapa sering kita pura-pura rendah hati untuk sesuatu yang kami banggakan?

Ekspresi otentik adalah suara sejati dari pemimpin. Kita berbicara dari karakter kita dan menciptakan kepercayaan, sinergi dan koneksi dengan semua orang di sekitar kita. Ekspresi otentik bukan tentang memperbaiki gaya bicara dan presentasi, namun lebih dalam dari itu. Pemimpin otentik kata-katanya datang langsung dari hati mereka dan pengalaman.

BACA JUGA  Kunci Sukses Ary Ginanjar Dimulai Dari Seimbangnya IQ, EQ, dan SQ

4Menghargai Secara Otentik

Secara umum semua manusia senang dihargai. Namun kebanyakan pemimpin cenderung melakukan terlalu banyak dan menghargai terlalu sedikit. Memberikan aesiasi adalah salah satu jenis ekspresi diri yang menciptakan nilai “penghargaan.”. Ini memberi energi pada orang lain dan membuat orang ingin melebihi tujuan dan menerobos batasan mereka. Kritik ada kalanya memberikan hasil jangka pendek tetapi biasanya tidak menambah nilai jangka panjang karena kadang menambahkan rasa takut dan ketidakamanan. Karena itu menghargai akan lebih memberikan dampak positif ketimbang mengkritik.

5Sajikan Secara Otentik

Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak dinilai dari seberapa baik dia memimpin, tapi oleh seberapa baik ia melayani. Bagaimana kita melayani organisasi, rakyat, pelanggan, pasar, komunitas, keluarga kami, dan hubungan lainnya.

Sebagai pemimpin, ketika kita berpindah dari kontrol untuk pelayanan. Pergeseran ini merupakan terobosan emosional dan spiritual. Hidup mengalir melalui kita dan kita hanya memainkan peran kita. Pekerjaan nyata kita adalah untuk melayani semua konstituen dalam hidup kita dan, dalam proses, untuk menghargai benar-benar fakta hanya melalui saling ketergantungan kita dengan orang lain kita menciptakan nilai.

Komitmen diri Anda untuk proses seumur hidup otentik tumbuh sebagai pribadi menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang tetap terhubung ke masing-masing lima keaslian di atas tidak hanya meningkatkan efektivitas mereka sendiri sebagai pemimpin, tetapi meningkatkan semua aspek kehidupan mereka.

Sumber:
Dr. Ary Ginanjar Agustian (Airmagz, Edisi 28, Juni 2017)


ESQ Exclusive Quantum Excellence, Training, training motivasi sukses

Anda Ingin segera meraih pencapaian tertinggi dalam hidup Anda?
Dapatkan 30 Video Motivasi Gratis dari ESQ 165 melalui email Anda



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ms_MY
id_ID en_GB ms_MY
Open chat
1
Pagi! Ada yang bisa Kami bantu?
Powered by